invisible hit counter
Pintermezzo

Kenapa Paku Masih Menjadi Andalan Saat Pemilu?

Pemilihan Umum di Indonesia yang termasuk paling besar karena mencoblos 5 surat suara sekaligus sudah lewat. Hiruk pikuknya masih terasa sampai sekarang. Apalagi hasil perhitungan suara dari KPU belum tuntas.

Hei, tunggu dulu! Kamu ngga akan diajak ngebahas siapa yang jadi pemenang pemilihan presiden atau menganalisa partai yang memperoleh suara banyak kok! Sudah banyak media yang membahas itu.

Yang pasti, buat kamu yang tahun ini ikut serta memberikan suara, salut deh! Kamu sudah berusaha jadi warga negara yang baik.

Tapi, merhatiin ngga sih kalau pemilihan umum di Indonesia masih menggunakan paku sebagai andalan. Uniknya, di dunia ini yang masih menggunakan paku sebagai sarana memilih hanya tinggal 2 negara, lho! Kamboja dan Indonesia!

Paku ini menjadi bahan pembicaraan di kalangan mahasiswa negara lain yang mengetahuinya. Begitu pula ketika anggota delegasi asing ikut menyaksikan pilkada serentak tahun 2018 laluAsal Usul Pemilu Menggunakan Paku

Asal usul pemilu menggunakan paku

Mencoblos menggunakan paku pertama kali digunakan pada pemilu pertama masa Orde Baru alias masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Pada pemerintahan masa itu, pemilu hanya diadakan sebagai formalitas. Meski pada pemilu pertama masih diikuti banyak partai, pada akhirnya hanya 3 partai; PPP dan PDIP serta Golongan Karya (Golkar) yang menjadi peserta pemilu.

Saat itu, pemilu dikatakan hanya sebuah formalitas karena untuk menunjukkan dan mengesahkan kekuasaan yang ada sebagai pilihan rakyat. Meyakinkan kepada orang banyak bahwa Indonesia masih menganut asas demokrasi. Nah, mencoblos kertas suara menggunakan paku adalah upaya memenangkan Golkar sebagai partai berkuasa dan Presiden Soeharto.

Alasannya, paku mudah dimanipulasi. Jika ada yang mencoblos ngga sesuai harapan, panitia akan mencoblos satu kali lagi sehingga surat suara ngga sah.

Saat kekuasaan Orde Baru dan Presiden Soeharto berakhir, tahun 2004 dan 2009 diadakan pemilu dengan mencontreng. Namun, tingkat keberhasilannya jauh dari harapan. Banyak suara yang ngga sah karena pemilih mencontreng dengan cara yang salah. KPU mengklaim pemilu berjalan kacau.

Oleh karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga yang menyelenggarakan pemilu mengubah cara pemilihan ke cara lama, mencoblos dengan paku. KPU menganggap masyarakat Indonesia belum siap dan banyak yang belum dapat membaca.

Sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal, guys! Mengingat tingkat buta huruf di Indonesia saat ini sudah sangat rendah, di bawah 1%. Artinya, masyarakat Indonesia sudah cerdas. Hanya perlu sosialisasi bagaimana cara mencontreng yang benar.

Kebiasaan lama yang sudah mengakar memang sulit berubah.

Sistem Demokrasi di Indonesia

Miris banget ya, kalau memikirkan alasan pemilu menggunakan paku? Padahal bangsa lain sudah menggunakan tinta anti hapus saat pemilu. Bahkan, beberapa negara sudah menggunakan pemilihan elektronik.

Ssst.. Guys, hal ini ngga perlu bikin kamu minder, lho! Apapun caranya, Indonesia konon disebut sebagai negara paling demokratis dan bebas di Asia. Kamu tetap bisa memilih sesuai hati nurani, berdasarkan rekam jejak calon anggota legislatif. Bahkan, pemilu yang lalu, 17 April 2019 bisa berlangsung aman dan damai.

Yang penting dan patut dibanggakan, kamu sudah berpartisipasi. Itu merupakan sumbangan kamu untuk negara Indonesia. Suara yang diyakini akan membawa Indonesia ke arah lebih baik.

Farid Hidayat

Full Stack Developer, Mobile Developer, Technowizard, TechnoArt,
Visionary Entrepreneur and Technology lover.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed