invisible hit counter
Pintermezzo

Prestasi Siswa Memburuk karena Tinta Merah?

Pernahkah kamu memperhatikan bahwa ketika menilai atau mengoreksi ulangan seringkali guru menggunakan tinta merah? Ya, tinta warna tersebut digunakan untuk memberi nilai akhir dan mengoreksi kesalahan yang dilakukan siswa.

Nggak tau dari mana asal mulanya, yang jelas tinta merah memang erat kaitannya dengan koreksi, bahkan nilai yang buruk.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, sebelum dikenal nilai KKM (ketuntasan kelulusan minimal) kebanyakan guru nggak pernah ngasih pengulangan jika hasil ujian buruk. Nilai kurang dari 5 akan ditandai dengan tinta merah.

Makanya, dulu itu kalau orang tua ambil rapot bukan rangking yang pertama kali ditanya. Namun, ada merahnya atau nggak ya di rapot kamu?

Ssst… Mungkin koreksi dengan nilai merah biar kelihatan kali ya? Kan kalau kamu nulis dengan tinta hitam, koreksinya dengan hitam lagi akan samar jadinya.

Tinta Merah Menurut Studi Universitas Colorado

tinta merah
image : picswe.com

Studi atau penelitian di Universitas Colorado menyebutkan bahwa tinta merah memberikan koreksi negatif kepada siswa. Bukan hasil yang membaik di kemudian hari tetapi kebalikannya. Merah, seperti meneriaki siswa bahwa pekerjaannya salah besar.

Dalam penelitian yang diterbitkan Social Science Journal, Profesor Sosiologi, Richard Dukes dan Asosiasi Profesor Heather, Albanesi menuliskan bahwa warna merah mempengaruhi siswa secara emosional.

Persepsi siswa terhadap kritik berubah. Bisa jadi mereka nggak mau menerimanya dan melemparkan kesalahan kepada guru.

Profesor Richard menegaskan bahwa sikap demikian merupakan timbal balik yang buruk.

Guru berharap siswa memperbaiki kesalahan, yang terjadi sebaliknya.

Koreksi Kesalahan Menurut Ami Kirkhan

image : ugetuget.com

Ami Kirkhan, Direktur Pelatihan dari Montessori School Foundation of Australia mempunyai pendapat yang berbeda.

Menurut Kirkhan, tinta merah yang digunakan guru di sekolah bukanlah masalah, asal respons guru terhadap kesalahan benar. Guru tidak asal memarahi sehingga siswa tetap menyadari kesalahan yang dilakukan.

Dengan cara yang benar, guru dapat membuat siswa berteman dengan kesalahan dan mengontrol kesalahan yang dibuatnya. Selanjutnya, siswa akan memperbaiki kesalahannya sendiri.

Jadi, siswa yang memburuk prestasinya bukan karena nilai yang menggunakan warna merah. Tapi karena komunikasi dengan guru yang salah.

Lebih jauh Kirkhan memberi contoh pada siswa-siswa usia pra sekolah. Mereka menyusun balok silinder berdasarkan ukuran dan warna yang sama. Dengan dorongan guru, ketika siswa melakukan kesalahan dan meletakkan balok di tempat yang salah mereka akan menyadari. Balok terakhir yang tidak masuk pada kotak ukuran berarti salah. Secara otomatis anak-anak usia dini mengubah susunan balok.

Mempermasalahkan Tinta Merah Membuang Waktu

image : pxhere.com

Ahli psikologis klinis, Sully – Anne Mc Commarck menyatakan penelitian yang menyelidiki pengaruh tinta merah pada siswa membuang-buang waktu.

Mc Commarck, tidak seharusnya penelitian memfokuskan pada kritik tentang warna pulpen.

Seharusnya mereka meneliti bagaiman agar siswa lebih kuat terhadap kritik.

Tugas guru adalah mengajar dan membangun karakter. Dengan demikian murid akan menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.

Penyesuaian diri ini penting karena di masa depan, siswa akan lebih banyak lagi menerima kritik dari orang lain. Menerima, menyadari, dan memperbaiki kesalahan tentu akan lebih baik.

Hmmm… Benar juga sih! Manusia mana sih yang nggak pernah punya kesalahan?

So, kamu harus siap ketika diingatkan akan kesalahan yang diperbuat bukan?

Penggunaan Tinta Merah Menurut William Compos

image : aliexpress.com

Seorang ahli psikologis bernama William Compos berpendapat sama dengan Profesor Richards.

Willian Compos menuturkan bahwa daripada menggunakan tinta merah lebih baik guru memberi komentar yang baik dan membina hubungan baik dengan murid. Cara ini diyakini akan membuat murid lebih baik dalam menerima kesalahannya untuk diperbaiki.

Compos lebih lanjut menyebutkan bahwa warna merah mempunyai arti tanda berhenti dan kemarahan. Seperti menunjukkan pada siswa atau murid agar menghentikan seluruh usahanya dalam pekerjaan dan meneriaki atau memarahinya.

Meski pada akhirnya murid akan menyadari kesalahan tetapi manusia beraksi cepat sesuai dengan yang dilihat. Respons asli seseorang bisanya terjadi 30 menit setelah melihat sesuatu.

Respons terkejut, sedih, dan sebagainya menunjukkan sifat yang negatif.

So guys, dari uraian di atas bagaimana menurutmu? Apakah prestasi siswa dapat memburuk karena tinta warna merah?

Sepertinya, pendapat Kirkhan dan Commarck lebih dapat diterima ya?

Tinta merah meski sering diartikan sebagai kemarahan, selama diaplikasikan dengan komunikasi atau hubungan yang baik maka tidak akan bermasalah.

Apapun namanya, guru memang mempunyai tugas memperbaiki kesalahan siswa bukan? Kalau diam saja, bukan guru namanya. Nanti kamu nggak tambah pinter dong!

Nayla Firdaus

Penulis dan blogger. Ibu dari 2 orang putra. Menyukai dunia kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed